Feeds:
Tulisan
Komentar

Indomaret Jl. Rajabasa Raya (Depan Kantor Kelurahan Perumnas Way Halim)

Alfa Mart Jl. Raya Hajimena (Bunderan Patung Raden Intan)Sukabumi1

Dalam upaya mengantisipasi perkembangan usaha minimarket di Kota Bandar Lampung,  Pemerintah Kota Bandar Lampung melalui Badan Penanaman Modal dan Perizinan Kota Bandar Lampung bersama satuan kerja terkait telah menyusun pedoman pendirian minimarket.  Melalui proses  yang cukup panjang akhirnya pedoman tersebut dapat diselesaikan dan selanjutnya ditetapkan sebagai produk hukum melalui Peraturan Walikota Bandar Lampung Nomor 17 tahun 2009 tentang Persyaratan dan Penataan Minimarket di Kota Bandar Lampung.

Tujuan ditetapkannya Peraturan Walikota tersebut selain sebagai acuan dalam penerbitan perizinan juga dalam rangka melindungi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dalam menjalankan usahanya, mengingat adanya kekhawatiran dari para pemilik toko/warung tradisional terhadap berdirinya minimarket akan mematikan usaha yang dijalankannya.

Penyusunan Peraturan Walikota Bandar Lampung Nomor 17 tahun 2009 yang dilakukan oleh Badan Penanaman Modal dan Perizinan Kota Bandar Lampung bersama Satuan Kerja terkait telah mengacu pada ketentuan-ketentuan yang diatur baik dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern maupun Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor : 53/M-DAG/PER/12/2008 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern.

Secara garis besar Peraturan Walikota tersebut mengatur tentang  persyaratan pembangunan minimarket, tata letak, perizinan, permodalan, waktu operasi, kewajiban dan larangan bagi serta sanksi administrasi.  Selengkapnya  dapat anda lihat pada tautan ini –> Klik Perwali BL 17/2009

Gerbang Kawasan Sentra industri KripikJika anda berkunjung ke Kota Bandar Lampung sepertinya belum lengkap kalau anda belum singgah ke Kawasan Sentra Industri Kripik yang terletak di jantung Kota Bandar Lampung tepatnya di Kelurahan Segalamider Kecamatan Kedaton dan dapat dituju melalui Jl. Teuku Umar atau melalui Jl. Imam Bonjol.  Masyarakat Kota Bandar Lampung lebih suka menyebut Kawasan Sentra Industri Kripik dengan sebutan Kripik Gang PU.Kripik Lampung_3

Kawasan Sentra Industri Kripik dari Terminal Rajabasa atau dari Stasiun Kereta Api Tanjungkarang dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 15 menit.  Jadi sangatlah disayangkan bila datang  ke Bandar Lampung namun belum mengunjunginya karena akses transportasi ke kawasan industri kripik tersebut sangat mudah sekali ditempuh.   Bila anda sengaja ingin menikmati hiruk pikuk Kota Bandar Lampung tanpa menggunakan kendaraan pribadi, untuk berkunjung ke kawasan industri kripik dapat dijangkau dengan menggunakan becak (yang mungkin di kota anda sudah tidak ada lagi).  Kendaraan becak biasa mangkal tepat dipintu gerbang masuk ke Kawasan Industri Kripik melalui Jl. Teuku Umar dan para abang becak selalu siap mengantarkan Anda ke kawasan industri kripik tersebut.

Kripik Bandar Lampung_2Berbagai jenis kripik yang ditawarkan kepada Anda untuk menjadi buah tangan memiliki jenis yang beragam mulai dari kripik pisang, singkong, ubi jalar, sukun, nangka dan berbagai jenis lannya.  Citra rasa yang ditawarkan pun tidak kalah dengan citra rasa kripik yang dijual di pasar swalayan mulai dari rasa gurih, asin manis, rasa keju, rasa coklat, balado dan berbagai citra rasa lainnya dengan harga yang sangat sangat terjangkau bagi kantong anda.

Kripik Bandar Lampung_1

p2020245

Selain itu, bagi anda yang memiliki profesi sebagai suplair panganan khas daerah, kripik dari pengrajin sentra industri kripik dapat dibeli dengan partai besar, namun untuk mendapatkannya perlu pemesanan terlebih dahulu pada pengrajinnya.  Bila anda penasaran silakan berkunjung ke kawasan industri kripik Bandar Lampung.

Informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui manajemen weblog Portal Muhtadi A. Temenggung dengan email : ma_temenggung@yahoo.coid atau nomor HP.0816843907.

Keripik Lampung_7

Muhtadi A. Temenggung

Air untuk semua.Cerobong Asap Industri Begitulah yang seharusnya terjadi agar kehidupan dimuka bumi ini terus bertahan langgeng dan harmonis. Namun, ketersediaan dan pemerataan sumber daya yang merupakan kebutuhan dasar manusia itu mulai sulit dipertahankan, dengan terus bertambahnya jumlah populasi di Bumi dari waktu ke waktu. Saat ini jumlah penduduk dunia telah mencapai milyaran orang. Padahal, volume air tawar yang ada dalam siklus hidrologi-yang menguap di laut akibat pemanasan matahari hingga menjadi awan dan jatuh menjadi hujan di daratan-jumlahnya relatif tetap dan dalam jumlah sangat sedikit yaitu hanya 0,025 persen dari seluruh sumber air yang ada di Bumi. Sebagian besar air tawar tersimpan dalam bentuk es di kutub. Persoalannya bukan sekadar karena bertambahnya jumlah penduduk yang memang sulit dihindari.

Ada banyak faktor yang dibuat sendiri oleh manusia hingga mengganggu keseimbangan siklus pasokan air tawar yang bersih, aman, dan tersedia dalam jumlah yang memadai di alam ini. Praktik pemanfaatan air dengan cara dan teknologi yang tidak ramah lingkungan, serta pengelolaan yang salah telah menimbulkan bencana alam di mana-mana. Meningkatnya jumlah penduduk telah mendorong perubahan peruntukan lahan, dari areal hutan menjadi daerah permukiman dan pertanian. Ditambah dengan adanya pembakaran bahan bakar fosil untuk menggerakkan mesin perekonomian dunia, maka yang terjadi adalah penggersangan hingga penggurunan atau degradasi lahan vegetasi menjadi gurun.

Deforestasi menurut penelitian Badan Meteorologi Dunia telah meningkatkan suhu bumi 0,6 derajat Celsius dalam seabad terakhir, dan diperkirakan akan terjadi kenaikan satu hingga 3,5 derajat Celsius selama abad 21. Tingkat kenaikan ini lebih cepat dibandingkan dengan yang terjadi secara alami sejak akhir zaman es sebelum munculnya manusia sekitar 10.000 tahun lalu.

Kenaikan suhu muka Bumi yang relatif kecil ini menimbulkan dampak negatif yang sangaemisi-kendaraant besar. Lebih daripada 100 negara dan 900 juta penduduknya mengalami dampak negatif pada kehidupan sosial dan ekonominya karena lahan yang gersang. Kenaikan suhu bumi yang diperkirakan berkisar antara 1,4 hingga 5,8 derajat Celsius, yang bakal terjadi mulai dari tahun 1900 hingga tahun 2100 menurut prakiraan DWC (Dialogue on Water and Climate)-sebuah forum internasional menghimpun para pihak dari 13 badan dunia-menyebabkan es di kutub mencair. Ini akan mengakibatkan naiknya permukaan laut 9 hingga 88 sentimeter. Kenaikan itu akan menenggelamkan kawasan pantai dan pulau-pulau di berbagai belahan bumi. Hilangnya vegetasi juga telah meningkatkan pemantulan radiasi matahari kembali ke atmosfer hingga memperkecil terbentuknya awan.

Perubahan keseimbangan paparan sinar Matahari ini telah mempengaruhi iklim regional dan lebih lanjut mengurangi curah hujan di kawasan itu. Menurut data dari UNEP (Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa), daerah kering di muka Bumi ini telah mencapai 70 persen, seluas 20 persen di antaranya mengalami degradasi yang parah yang umumnya berada di Sahara Afrika.

Berkurangnya areal hutan dan tutupan vegetasi terutama di hulu telah mengurangi peresapan air ke dalam tanah, hingga ketersediaan air tawar baik di permukaan maupun di dalam tanah berkurang pada musim kemarau. Ketika hujan, air tawar yang jatuh ke bumi itu akan langsung mengalir kembali ke laut, tanpa sempat meresap ke dalam tanah. Selain itu ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi, permukaan tanah yang terbuka itu akan tererosi, maka terjadilah banjir di daerah hulu. Itulah gambaran betapa luasnya kerusakan lingkungan yang telah mengakibatkan berbagai dampak negatif yang sangat parah pada keseimbangan tata air dan kelestarian sumber daya air. Hal ini telah dirasakan oleh 1,4 juta orang yang hidup tanpa air minum yang bersih saat ini, dan mengakibatkan tujuh orang mati setiap tahunnya akibat penyakit yang muncul karena air yang tercemar oleh bakteri dan limbah.

Krisis air dunia saat ini menurut World Water Forum sudah dalam kondisi yang genting. Satu dari empat orang di dunia ini kekurangan air minum, dan satu dari tiga orang tidak mendapat sarana sanitasi yang layak. Menjelang tahun 2025 sekitar 2,7 milyar orang atau sekitar sepertiga populasi dunia akan menghadapi kekurangan air dalam tingkat yang parah. Ketersediaan air yang terbatas juga telah memicu konflik antarpenduduk yang dipisahkan oleh batas wilayah. Adanya batasan wilayah administrasi pada satu daerah aliran sungai dapat memicu konflik manakala distribusi air tidak merata dan berimbang antardaerah, antarprovinsi, hingga antarnegara.

Saat ini, lebih dari 260 sungai yang dimanfaatkan oleh dua atau lebih negara, sebagian besar tanpa aturan legal yang layak. Menurut Peter Gleick, dari Pacific Institute for Studies in Development, Environment, and Security, Amerika Serikat, konflik akibat sumber daya air lintas batas telah terjadi sekitar 5000 tahun lalu. Namun, pada masa kini catatan sejarah paling awal menunjukkan, pada tahun 1503 negara Pisa dan Florence di Eropa bertikai dan menjadikan sumber air sebagai alat militer. Ketika itu Leonardo da Vinci dan Marchievelli merencanakan membelokkan sungai Arno dari Pisa selama pertempuran itu. Kasus konflik air yang terakhir terjadi pada tahun 1999-2000 antara Namibia, Botswana, dan Zambia. Tiga negara di Afrika ini berselisih mengenai batas wilayah dan akses air di Pulau Sedudu/Kasikili yang berada di Sungai Zambezi/Chobe.

pencemaran-sungaiDalam catatan Gleick, ada 61 konflik antarnegara karena masalah air dalam kurun waktu hampir lima abad. Persengketaan sumber air itu terjadi karena berbagai masalah, antara lain akibat kontrol sumber air secara sepihak, menjadikan air sebagai alat atau target militer, politik, dan teror. Dan air menjadi sumber perselisihan dalam pembangunan ekonomi dan sosial. Pasokan air tawar yang kian menipis akibat salah urus, akan besar kemungkinan memicu lebih banyak konflik dalam skala lebih besar selama abad 21 ini.

Empat prioritas Dalam seminggu Forum Ketiga Air Dunia yang berakhir, Minggu (23/3), terungkap semua persoalan tersebut dalam 160 topik pembahasan. Menurut Presiden Badan Air Dunia (World Water Council) Dr Mahmoud Abu-Zied, dalam sambutan pembukaan forum tersebut di Kyoto (16/3), pertemuan tersebut merupakan tahapan penting karena akan menetapkan rencana aksi penanganan masalah air dunia.

Ia melihat ada empat hal yang harus menjadi prioritas aksi yaitu membangun etika baru air, mengupayakan pendanaan dalam pengelolaan air, meningkatkan pengelolaannya untuk keamanan dan perdamaian dunia, dan memprioritaskan perhatian pada negara-negara berkembang yang sebagian besar masyarakatnya menghadapi krisis air dan krisis ekonomi.

Sesungguhnya kemiskinan ekonomi dan air itu bagai dua sisi dalam satu keping mata uang. Kondisi krisis ini tidak hanya mengancam pembangunan berkelanjutan, tetapi juga untuk membangun kembali stabilitas keamanan dan perdamaian dunia. “Pada langkah pertama, kita harus mencapai sasaran untuk menyediakan akses air bagi setiap orang. Karena air merupakan mesin untuk pertumbuhan ekonomi dan bila digunakan secara bijak akan memberi kontribusi yang signifikan untuk mengatasi kemiskinan,” urainya.

Abu-Zeid adalah juga Menteri Sumber Daya Air dan Irigasi Mesir. Krisis air memang merupakan fenomena global, namun banyak bangsa dan negara dalam masa transisi memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah itu. Sebaliknya negara berkembang khususnya di Afrika, di sebagian besar di Asia, dan Amerika Selatan, menghadapi tantangan yang besar untuk memenuhi kebutuhan dasar itu. Mereka juga menghadapi milyaran masyarakat miskin yang kelaparan dan telantar. Karena itu, Abu-Zeid menekankan agar upaya yang dilakukan lebih mengutamakan masyarakat miskin di kawasan itu. Langkah yang harus dilaksanakan meliputi aplikasi konsep pengelolaan dan konservasi sumber daya air terintegrasi, memaksimalkan ketahanan pangan melalui pertanian irigasi di negara berkembang dan teknologi air yang murah, meningkatkan efektivitas bantuan untuk membangun kapasitas dan fasilitas pengelolaan air, dan mempromosikan perdamaian dan keamanan sungai lintas batas, serta kerja sama baru dalam pelayanan penyediaan air bersih.

Air merupakan katalis untuk perdamaian dan sumber keamanan dunia. Penekanannya harus diberikan terhadap mekanisme resolusi dan pencegahan konflik. Dalam hal ini harus dilakukan proteksi sumber daya air dan fasilitasnya selama konflik militer, dan penyediaan suplai air dalam keadaan darurat dan mengelola bencana alam. Ubah paradigma Upaya dalam tingkat global untuk mencegah persoalan air menjadi semakin buruk selama abad 21 ini, telah dirintis sejak Badan Air Dunia (World Water Council)-yang menjadi wadah pemikiran tentang kebijakan air internasional-menggelar forum pertemuan pertamanya di Marakesh, Maroko, enam tahun lalu. Dalam forum itu, WWC telah mengidentifikasi dengan jelas bahwa dunia kini tengah dalam kondisi krisis air.

Dalam forum kedua yang diselenggarakan tiga tahun kemudian di Hague, Belanda, WWC menyusun visi untuk mengatasi masalah tersebut. Di Kyoto, Jepang, pada forum ketiga tahun 2003, WWC menyusun rencana aksi dan menetapkan seberapa jauh dan cepat aksi itu dapat dilaksanakan. Dalam pertemuan ini akan dikeluarkan deklarasi menteri dunia. Forum ini secara langsung maupun tidak langsung telah mempengaruhi pandangan dunia pada ketersediaan air tawar dan mengangkat masalah itu pada tingkat yang lebih tinggi. Lahirnya forum ini telah memicu terjadinya revolusi biru yang mengubah paradigma dan pola tata air dan pemanfaatannya dalam skala dunia. Hal itu antara lain ditunjukkan pada komitmen negara G-7 setelah pertemuannya di Paris tahun 1998 yang akan memprioritaskan penanganan masalah air.

Komitmen ini kemudian direfleksikan pada dukungannya bagi NEPAD (New Partnership for Africa Development) pada tahun 2002. Sementara itu, masalah air pada tahun 2000 telah masuk dalam agenda di PBB sebagai bagian dari tujuan pembangunan dunia abad 21. Fokus ini kemudian lebih dipertajam pada Konferensi Air Internasional di Bonn tahun 2001 yang kemudian menghasilkan masukan bagi WSSD (World Summit for Sustainable Development) di Johannesburg, Afrika Selatan, tahun lalu. Komitmen negara-negara maju dan badan dunia ini hendaknya disambut serius terutama oleh pemerintah negara berkembang yang dituntut kesadarannya untuk melihat kenyataan bahwa masyarakatnya saat ini dalam kondisi krisis air dan memerlukan uluran tangan segera.

Sumber :  http://www.inawater.com

Jakarta – Baku mutu air tanah di Jakarta sudah dalam kondisi memprihatinkan. Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta mencatat, 94 persen air tanah di Ibu Kota tidak lagi memenuhi standar baku mutu karena sudah tercemar. Faktor pencemar terbesar adalah bakteri Escherichia coli.

Kepala BPLHD DKI Jakarta Kosasih Wirahadikusumah menyatakan, Pemerintah Provinsi DKI tidak punya anggaran untuk membangun jaringan sistem terpadu mengurangi pencemaran ini karena membutuhkan dana Rp 40 trilyun. Hal itu dikatakan Kosasih dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi D DPRD DKI, Senin (24/3). Rapat yang dipimpin Ketua Komisi D Koeswadi dihadiri juga Asisten Pembangunan DKI Irzal Djamal. “Bakteri E coli ini mencemari air tanah melalui septic tank. Itu karena selama ini sistem pembuangan limbah yang dipakai masyarakat kita masih mengikuti sistem Belanda, yang sudah ada sejak zaman dulu,” kata Kosasih. Menurut dia, sistem pembuangan limbah di masyarakat yang digunakan adalah model lama, di mana setiap rumah mengelola sendiri limbahnya dalam septic tank.

Selanjutnya, papar Kosasih, kotoran itu diangkut atau disedot Dinas Kebersihan. Pada tahap akhir, limbah itu di buang atau ditampung di tempat pembuangan akhir (TPA) limbah. Dari hasil pantauan BPLHD DKI, sebagian besar septic tank dan penampungan akhir limbah tidak diberi dasar beton, melainkan langsung berupa tanah. “Yang dibeton, katanya, hanya bagian dinding sebelah-menyebelah,” jelas Kosasih. Penanganan seperti ini, lanjut nya, mengakibatkan air limbah terserap ke dalam tanah sehingga mencemari air tanah dan tersedot oleh sumur tangan atau listrik. Rp 40 trilyun Kosasih mengatakan, sejak tahun 1973 DKI sudah memikirkan pengelolaan limbah dengan model Tiwass (total integrated waste sewerage system), atau sistem pembuangan saluran air limbah.

Kompas mencatat, bulan Februari 2000 DKI telah menjajaki kemungkinan menangani air limbah rumah tangga dalam sistem terpadu. Untuk itu, DKI menjalin kerja sama dengan Pemerintah Negara Bagian New South Wales, Australia, melalui mitra swastanya. “Sejauh ini satu investor dari New South Wales, Australia, tertarik. Bahkan, antara kedua pihak telah menandatangani MoU. Tapi karena sejumlah persoalan teknis belum tuntas, kerja sama yang telah dirancang belum terwujud,” jelasnya.

Dalam sistem Tiwass, limbah buangan rumah tangga akan dialirkan melalui pipa-pipa bawah tanah dan kemudian ditampung di suatu tempat. Selanjutnya dijernihkan sehingga tidak perlu setiap rumah mempunyai septic tank sendiri seperti saat ini. “Model seperti ini membutuhkan dana besar, karena untuk membangun saluran pipa di seluruh DKI diperkirakan membutuhkan dana Rp 40 trilyun lebih,” katanya. Dana sebesar itu, tambah Kosasih, tidak mungkin diharapkan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Kosasih melanjutkan, saat ini baru sekitar 2-4 persen pembuangan limbah di DKI dilayani melalui sistem perpipaan, yakni kawasan Setiabudi, Tebet, dan Kuningan.

Sumber :  http://www.inawater.com

Kyoto – Indeks kemiskinan air (Water Poverty Index) yang disusun Badan Air Dunia (World Water Council) dan peneliti dari Pusat Ekologi dan Hidrologi Inggris menunjukkan bahwa beberapa negara maju seperti Amerika Serikat (AS) dan Jepang masuk peringkat buruk. Sedang beberapa negara berkembang justru masuk sepuluh terbaik. Dalam peringkat itu Indonesia satu peringkat di bawah AS dan di atas Jepang.

PDAM WAY RILAUMeski demikian, kepada wartawan Kompas Yuni Ikawati di Kyoto, Kamis (20/3), Dr Caroline Sullivan dari Pusat Ekologi dan Hidrologi Inggris menambahkan, indeks tersebut saat ini kemungkinan belum memberikan gambaran sesungguhnya dan dipakai sebagai pembanding karena masih ada beberapa kekurangan data dasar. Data yang terkumpul dari 147 negara yang diperoleh dari Bank Dunia dan lembaga internasional lain, beberapa di antaranya sudah kedaluwarsa. Namun, pada tahap awal, indeks pada skala nasional ini paling tidak dapat menunjukkan prinsip dan metodologi yang digunakan.

Yang penting justru pengukuran pada skala kecil. Karena dari skala kecil ini akan tersusun indeks skala nasional yang lebih akurat. Untuk itu Sullivan membuat studi percontohan di beberapa daerah di Afrika Selatan, Tanzania, dan Sri Lanka. Saat ini Sullivan dan timnya tengah mendesiminasikan informasi dan menghubungi badan donor untuk pengembangan lebih lanjut ke berbagai negara. Indeks ini menurut rencana akan diperbarui setiap tiga tahun. Lebih lanjut dijelaskan Sullivan, dengan indeks tersebut pemerintah dapat menentukan daerah mana yang harus mendapat perhatian di sektor keairan.

Di Jakarta, misalnya, di wilayah selatan umumnya dihuni penduduk yang kaya. Mereka tidak menghadapi kesulitan mendapatkan air, termasuk untuk mengisi kolam renang pribadi. Namun, di bagian lain, terutama Jakarta Utara, terjadi kekurangan air bersih. Indeks ini harus menjadi perhatian pemerintah untuk menolong masyarakat miskin mendapatkan akses air. Pemerintah harus memiliki pemahaman lebih baik bagaimana penduduk mendapat akses pada air, dan mempunyai keputusan lebih baik dalam mengalokasikan air. “Seperti Indonesia yang memiliki banyak hari hujan dan memiliki sumber air tawar, tapi mengapa banyak orang tidak mendapat air tawar yang layak? Yang jadi masalah adalah bagaimana mengelola air, membangun infrastruktur dan sistem politiknya,” urai Sullivan. Bagi perusahaan air minum, indeks ini juga membantu mengindentifikasi daerah mana yang harus mendapat perhatian. “Perusahaan jangan hanya memikirkan mana yang lebih memberi keuntungan, tapi juga masyarakat mana yang paling membutuhkan,” tambah Sullivan yang telah menemui Thames Indonesia untuk menerapkan indeks itu.

Peringkat indeks Indeks Kemiskinan Air yang disusun selama 1,5 tahun ini dikemMobil Penyedia Air Bersih PDAM Way Rilaubangkan oleh tim yang terdiri dari 31 peneliti air dari berbagai negara di dunia. Mereka menetapkan peringkat 147 negara pada indeks tersebut berdasarkan lima komponen, yaitu sumber daya air, akses, kapasitas, pemanfaatan, dan dampak lingkungan. Dalam Water Poverty Index, ada sepuluh negara terkaya sumber air tawar yaitu berturut-turut Finlandia, Kanada, Islandia, Norwegia, Guyana, Suriname, Austria, Irlandia, Swedia, dan Swiss. Sedangkan sepuluh negara termiskin air sebagian besar negara di Afrika yaitu Haiti, Nigeria, Etiopia, Eritrea, Malawi, Djibouti, Chad, Benin, Rwanda, dan Burundi. Pada indeks tersebut, Indonesia berada pada kelompok peringkat buruk karena berada pada posisi ke-33, diapit negara maju AS dan Jepang. Dalam hal ini Indonesia memiliki total indeks lebih baik dibandingkan dengan Jepang. Indonesia paling menonjol pada komponen “pemanfaatan”.

Sumber :  http://www.inawater.com

Seorang penjual siomay, Ahmad Muklis, tidak mau kalah dari rekan-rekannya dalam berkampanye. Dengan modal yang minim, calon legislatif (caleg) Partai Amanat Nasional (PAN) ini berkampanye dengan membagikan stiker gambar dirinya sambil berjualan siomay dan es kepala muda. Ia berjualan di Jalan Urip Sumoharjo Bandar Lampung. Sejak ditetapkan sebagai caleg dari PAN Ahmad aktif berkampanye sambil berjualan.

Ahmad tidak segan-segan mengatakan dirinya sebagai caleg dari PAN kepada setiap pembeli yang datang. Untuk membuat kampanyenya semakin berarti Ahmad membuat stiker gambar dirinya untuk dibagi-bagikan dengan masyarakat. Meskipun modal untuk membuat stiker itu pas-pasan.

Sambil menunggu pembeli, terkadang sarjana pendidikan ini juga berkampanye ke rumah-rumah dan menempel stiker pada setiap rumah yang telah dikunjungi. Pria dengan tiga anak itu mengaku baru kali ini menjadi caleg meski telah aktif di partai berlambang matahari tersebut itu sejak 1998. Ia termotivasi dengan sistem suara terbanyak yang diterapkan PAN.

Sistem suara terbanyak membuat peluang untuk duduk di kursi DPRD Bandar Lampung menjadi besar. Jika terpilih menjadi anggota DPRD Bandar Lampung Ahmad berjanji akan memperjuangkan para pedagang kaki lima. Di antaranya pinjaman lunak bagi pedagang kecil serta menolak penggusuran pedagang kaki lima.(DOR)

Sumber :  metrotvnews.com;  multiply.com

Full transcript as prepared for delivery of President Barack Obama’s inaugural remarks on Jan. 20, 2009, at the United States Capitol in Washington, D.C.

I stand here today humbled by the task before us, grateful for the trust you have bestowed, mindful of the sacrifices borne by our ancestors. I thank President Bush for his service to our nation, as well as the generosity and cooperation he has shown throughout this transition.

Forty-four Americans have now taken the presidential oath. The words have been spoken during rising tides of prosperity and the still waters of peace. Yet, every so often the oath is taken amidst gathering clouds and raging storms. At these moments, America has carried on not simply because of the skill or vision of those in high office, but because We the People have remained faithful to the ideals of our forbearers, and true to our founding documents.

So it has been. So it must be with this generation of Americans.

That we are in the midst of crisis is now well understood. Our nation is at war, against a far-reaching network of violence and hatred. Our economy is badly weakened, a consequence of greed and irresponsibility on the part of some, but also our collective failure to make hard choices and prepare the nation for a new age. Homes have been lost; jobs shed; businesses shuttered. Our health care is too costly; our schools fail too many; and each day brings further evidence that the ways we use energy strengthen our adversaries and threaten our planet.

These are the indicators of crisis, subject to data and statistics. Less measurable but no less profound is a sapping of confidence across our land – a nagging fear that America’s decline is inevitable, and that the next generation must lower its sights.

Today I say to you that the challenges we face are real. They are serious and they are many.

They will not be met easily or in a short span of time. But know this, America – they will be met. On this day, we gather because we have chosen hope over fear, unity of purpose over conflict and discord.

On this day, we come to proclaim an end to the petty grievances and false promises, the recriminations and worn out dogmas, that for far too long have strangled our politics.

We remain a young nation, but in the words of Scripture, the time has come to set aside childish things. The time has come to reaffirm our enduring spirit; to choose our better history; to carry forward that precious gift, that noble idea, passed on from generation to generation: the God-given promise that all are equal, all are free, and all deserve a chance to pursue their full measure of happiness.

In reaffirming the greatness of our nation, we understand that greatness is never a given. It must be earned. Our journey has never been one of short-cuts or settling for less. It has not been the path for the faint-hearted – for those who prefer leisure over work, or seek only the pleasures of riches and fame. Rather, it has been the risk-takers, the doers, the makers of things – some celebrated but more often men and women obscure in their labor, who have carried us up the long, rugged path towards prosperity and freedom.

For us, they packed up their few worldly possessions and traveled across oceans in search of a new life.

For us, they toiled in sweatshops and settled the West; endured the lash of the whip and plowed the hard earth.

Source : ABC News

————————————————————————

Tulisan Sebelumnya »