“25 Tahun Ilmu Lingkungan di (Universitas) Indonesia”


Masalah lingkungan hidup adalah masalah yang multi sumber, multipenyebab dan multi dampak. Kita bisa sebutkan beberapa yang sangat krusial, yaitu permasalahan sampah domestik dan perkotaan, limbah industri, menurunnya kualitas ekosistem, polusi di perairan dan teresterial, pemanasan global dan isu perubahan iklim serta yang tak kalah penting adalah kenyataan betapa rendahnya prilaku dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.

Satu hal besar yang selalu mengganjal di benak saya -dan saya percaya juga di kepala banyak orang- dewasa ini adalah pertanyaan bagaimana mengatasi atau menjawab masalah-masalah lingkungan hidup tersebut? Ketika hukum dan undang-undang telah dibuat, konferensi tingkat tinggi diselenggarakan, kebijakan dicanangkan, tetapi masalah lingkungan terus saja berlangsung dengan skala yang makin meningkat hingga sekarang. Karena itu bukan kebetulan jika saya menemukan suatu kritik yang sangat tajam ditulis dalam sebuah Pendahuluan buku berjudul “This Sacred Earth: Religion, Nature Environment” yang diedit oleh Robert Gottlieb (1996). Isinya adalah sebagai berikut: “…the environmental crisis is a crisis of our entire civilization. It casts doubt on our political, economic, and technological systems, on theoretical science and western philosophy, on how we consume or eat. Corporate greed, nationalistic aggression, obsessions with technological “development”, philosophical attitudes privileging “man’s” reason above the natural world, addictive consumerism…all these collaborate in the emerging ruin of the earth.”

Menyadari betapa kompleksnya permasalahan lingkungan tersebut maka usaha apapun untuk mengatasinya tidak akan pernah berhasil hanya dengan semata-mata mengandalkan pada satu disiplin ilmu, satu paradigma berpikir atau satu aspek saja, melainkan haruslah merupakan sebuah upaya komprehensif antar disiplin terkait (interdisciplinary effort).

Lantas semesta pengetahuan yang seperti apa yang perlu ditawarkan atau tersedia dalam ilmu lingkungan?, seperti apakah ilmu lingkungan itu? bagaimana ilmu lingkungan bisa kita definisikan?

Dalam benak saya ilmu lingkungan adalah suatu ilmu yang lintas disiplin. Ilmu lingkungan adalah ilmu yang membahas tentang interaksi sangat kompleks yang terjadi antar ekosistem darat, air, udara beserta kehidupan hayati –dan manusia menjadi elemen penting yang ada di dalamnya. Karena itu ilmu lingkungan dalam pandangan saya adalah ilmu yang mencakup aspek ekonomi, sosial, budaya, agama, politik, hukum, sains dan teknologi, pembangunan, manajmen, komunikasi dll. Dalam ilmu lingkungan tidak ada hirarki disiplin ilmu apa yang lebih utama. Setiap komponen ilmu yang ada di dalamnya memiliki nilai penting. Ilmu lingkungan membahas masalah keterkaitan (interrelatedness) dan ketersalinghubungan (interconetedness) antar displin-disiplin tersebut sehingga tergambar bahwa memang itulah yang ternyata terjadi di alam atau lingkungan hidup. Pembelajaran mengenai aspek sains (kimia, biologi, ekologi dll) dan teknologi yang terkait dengan isu lingkungan tidak lebih penting atau prioritas daripada aspek sosial atau teologi misalnya. Ini penting jika kita ingin secara serius dan berhasil menjawab problem-problem lingkungan yang ada.

Saya khawatir krisis lingkungan menjadi suatu krisis peradaban. Karena itu satu kata kunci jawabannya adalah melakukan pendekatan holistik (wholeness) bukannya pendekatan parsial. Peranan ilmu lingkungan diharapkan akan membantu tumbuhnya masyarakat yang sadar lingkungan hidup, masyarakat yang menemukan ecoself-nya bahwa kelangsungan hidup dan eksistensi kita sangat bergantung pada lingkungan: air, udara, tanah, bumi dan semesta. Dalam istilah yang pernah dikembangkan oleh Fritjof Capra wawasan dan pengetahuan mendasar tentang ekologi itu disebut sebagai ecoliteracy.

Ke depan peranan ilmu lingkungan (tentunya beserta para pemikir, akademisi, pembuat kebijakan dan keputusan, para top manajer dan pemimpin) di Indonesia idealnya bisa membawa peradaban bangsa saat ini dari semata-mata berorientasi pada peradaban industri tetapi yang lebih penting adalah kepada peradaban ekologis. Dalam konteks ekologis, sistem ekonomi misalnya, perlu bergeser dari paradigma ekonomi kompetitif menjadi lebih kooperatif, dari cita-cita pertumbuhan tanpa batas menjadi pertumbuhan berkelanjutan, dari ekonomi yang mengabaikan lingkungan menjadi ekonomi berbasis ekologi. Dalam sektor pertanian, dari monokultur ke polikultur, dari pertanian yang memakai pupuk sintetik dan pestisida menjadi pupuk organik dan mengandalkan pembasmi hama biologis berbasis biodiversitas. Dalam peradaban ekologis, paradigma saintifik juga perlu bergeser dari sifatnya yang semata-mata mekanistik menuju organismik, dari pandangan alam sebagai mesin menjadi sebagai suatu semesta proses yang saling berinteraksi, dari sifatnya yang deterministik menjadi nondeterminsitik dan probabilistik, dari kausalitas linear menjadi dinamik nonlinear, dari atomistik menjadi holistik.

Di wilayah epistemologis terjadi pergeseran orientasi utama dari logiko-positivistik menjadi realisme-kritis, dari reduksionisme menjadi integralisme. Peranan manusia bergeser dari karakter superiositas dan arogansi atas alam menjadi reflektif dan kreatif terhadap alam, dari dominasi ke ko-evolusi simbiotik, dari penguasa alam menjadi bagian dari alam. Termasuk juga dalam aspek nilai- nilai; dari alam sebagai sumber daya menjadi alam sebagai pemelihara biodiversitas, dari antroposentrik-humanis menjadi biosentik- ekosentris. Di tataran teologi dan agama, citra alam sebagai musuh yang menakutkan karena itu harus ditaklukkan menjadi sesuatu yang sakral, dari divinitas transenden menjadi divinitas imanen — dunia dipercaya menjadi tempat kehadiran sang maha ideal di bumi melalui kehadiran manusia. Tuhan ada pada segala sesuatu. Dalam aspek teknologi, dari kebergantungan pada bahan bakar fosil kepada sumber yang dapat diperbaharui (solar cell, biofuel, microbial fuel cell dan biodiesel), dari penghasil limbah menjadi daur ulang dan daur pakai, dari eksploitatif dan konsumeristik menjadi protektif dan preserpatif terhadap ekosistem, dari teknologi berorientasi keuntungan menjadi teknologi tepat guna (appropiate technology). Di lapangan pendidikan dan penelitian, dari disiplin yang terspesialisasi ke multidisiplin yang integratif, dari pengetahuan miskin nilai menjadi kaya nilai, pandangan yang fragmentaris ke pandangan dunia yang terunifikasi.

Sebagai bagian dari masyarakat berpengetahuan, saya pribadi sebagai pengajar matakuliah Kimia, percaya bahwa ilmu kimia, khususnya Kimia Lingkungan beserta metodologi baru riset dan teknologi Kimia (Green Chemistry) yang saya pelajari dapat turut memberikan kontribusi posistif bagi berkembangnya ilmu lingkungan di Indonesia umumnya dan di Universitas Indonesia pada khususnya. Sehingga cita-cita tercapainya masyarakat dan peradaban ekologis yang telah saya paparkan di atas bukanlah hanya mimpi yang tidak pernah bisa menjadi kenyataan. (artikel tulisan :  Asep saefumillah, 8-09-2007).

2 thoughts on ““25 Tahun Ilmu Lingkungan di (Universitas) Indonesia”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s