94 Persen Air Tanah Jakarta Tercemar


Jakarta – Baku mutu air tanah di Jakarta sudah dalam kondisi memprihatinkan. Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta mencatat, 94 persen air tanah di Ibu Kota tidak lagi memenuhi standar baku mutu karena sudah tercemar. Faktor pencemar terbesar adalah bakteri Escherichia coli.

Kepala BPLHD DKI Jakarta Kosasih Wirahadikusumah menyatakan, Pemerintah Provinsi DKI tidak punya anggaran untuk membangun jaringan sistem terpadu mengurangi pencemaran ini karena membutuhkan dana Rp 40 trilyun. Hal itu dikatakan Kosasih dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi D DPRD DKI, Senin (24/3). Rapat yang dipimpin Ketua Komisi D Koeswadi dihadiri juga Asisten Pembangunan DKI Irzal Djamal. “Bakteri E coli ini mencemari air tanah melalui septic tank. Itu karena selama ini sistem pembuangan limbah yang dipakai masyarakat kita masih mengikuti sistem Belanda, yang sudah ada sejak zaman dulu,” kata Kosasih. Menurut dia, sistem pembuangan limbah di masyarakat yang digunakan adalah model lama, di mana setiap rumah mengelola sendiri limbahnya dalam septic tank.

Selanjutnya, papar Kosasih, kotoran itu diangkut atau disedot Dinas Kebersihan. Pada tahap akhir, limbah itu di buang atau ditampung di tempat pembuangan akhir (TPA) limbah. Dari hasil pantauan BPLHD DKI, sebagian besar septic tank dan penampungan akhir limbah tidak diberi dasar beton, melainkan langsung berupa tanah. “Yang dibeton, katanya, hanya bagian dinding sebelah-menyebelah,” jelas Kosasih. Penanganan seperti ini, lanjut nya, mengakibatkan air limbah terserap ke dalam tanah sehingga mencemari air tanah dan tersedot oleh sumur tangan atau listrik. Rp 40 trilyun Kosasih mengatakan, sejak tahun 1973 DKI sudah memikirkan pengelolaan limbah dengan model Tiwass (total integrated waste sewerage system), atau sistem pembuangan saluran air limbah.

Kompas mencatat, bulan Februari 2000 DKI telah menjajaki kemungkinan menangani air limbah rumah tangga dalam sistem terpadu. Untuk itu, DKI menjalin kerja sama dengan Pemerintah Negara Bagian New South Wales, Australia, melalui mitra swastanya. “Sejauh ini satu investor dari New South Wales, Australia, tertarik. Bahkan, antara kedua pihak telah menandatangani MoU. Tapi karena sejumlah persoalan teknis belum tuntas, kerja sama yang telah dirancang belum terwujud,” jelasnya.

Dalam sistem Tiwass, limbah buangan rumah tangga akan dialirkan melalui pipa-pipa bawah tanah dan kemudian ditampung di suatu tempat. Selanjutnya dijernihkan sehingga tidak perlu setiap rumah mempunyai septic tank sendiri seperti saat ini. “Model seperti ini membutuhkan dana besar, karena untuk membangun saluran pipa di seluruh DKI diperkirakan membutuhkan dana Rp 40 trilyun lebih,” katanya. Dana sebesar itu, tambah Kosasih, tidak mungkin diharapkan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Kosasih melanjutkan, saat ini baru sekitar 2-4 persen pembuangan limbah di DKI dilayani melalui sistem perpipaan, yakni kawasan Setiabudi, Tebet, dan Kuningan.

Sumber :  http://www.inawater.com

3 thoughts on “94 Persen Air Tanah Jakarta Tercemar

  1. salam kenal pak.

    saya aktif di konsultan di daerah bekasi..
    tetapi skrg sudah freelance..

    senang aja nambah jaringan TL..
    oiya pak, saya mau ngasi info juga, bahwa mahasiswa teknik Lingkungan se indonesia (IMTLI)akan mengadakan kongres bulan desember ini di ITS surabaya. kebetulan saya mantan pengurus IMTLI semasa menjadi mahasiswa dulu.
    jika berkenan, mohon disampaikan kepada ketua himpunan mahasiswa teknik lingkungan (HMTL) atau himpunan mahasiswa sejenisnya di univ.malahayati.

    untuk info bisa menghubungi pengurus imtli reg. jogja
    ermin wahyu ningrum (08179442257)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s