Revolusi Biru Itu Telah Dimulai


Air untuk semua.Cerobong Asap Industri Begitulah yang seharusnya terjadi agar kehidupan dimuka bumi ini terus bertahan langgeng dan harmonis. Namun, ketersediaan dan pemerataan sumber daya yang merupakan kebutuhan dasar manusia itu mulai sulit dipertahankan, dengan terus bertambahnya jumlah populasi di Bumi dari waktu ke waktu. Saat ini jumlah penduduk dunia telah mencapai milyaran orang. Padahal, volume air tawar yang ada dalam siklus hidrologi-yang menguap di laut akibat pemanasan matahari hingga menjadi awan dan jatuh menjadi hujan di daratan-jumlahnya relatif tetap dan dalam jumlah sangat sedikit yaitu hanya 0,025 persen dari seluruh sumber air yang ada di Bumi. Sebagian besar air tawar tersimpan dalam bentuk es di kutub. Persoalannya bukan sekadar karena bertambahnya jumlah penduduk yang memang sulit dihindari.

Ada banyak faktor yang dibuat sendiri oleh manusia hingga mengganggu keseimbangan siklus pasokan air tawar yang bersih, aman, dan tersedia dalam jumlah yang memadai di alam ini. Praktik pemanfaatan air dengan cara dan teknologi yang tidak ramah lingkungan, serta pengelolaan yang salah telah menimbulkan bencana alam di mana-mana. Meningkatnya jumlah penduduk telah mendorong perubahan peruntukan lahan, dari areal hutan menjadi daerah permukiman dan pertanian. Ditambah dengan adanya pembakaran bahan bakar fosil untuk menggerakkan mesin perekonomian dunia, maka yang terjadi adalah penggersangan hingga penggurunan atau degradasi lahan vegetasi menjadi gurun.

Deforestasi menurut penelitian Badan Meteorologi Dunia telah meningkatkan suhu bumi 0,6 derajat Celsius dalam seabad terakhir, dan diperkirakan akan terjadi kenaikan satu hingga 3,5 derajat Celsius selama abad 21. Tingkat kenaikan ini lebih cepat dibandingkan dengan yang terjadi secara alami sejak akhir zaman es sebelum munculnya manusia sekitar 10.000 tahun lalu.

Kenaikan suhu muka Bumi yang relatif kecil ini menimbulkan dampak negatif yang sangaemisi-kendaraant besar. Lebih daripada 100 negara dan 900 juta penduduknya mengalami dampak negatif pada kehidupan sosial dan ekonominya karena lahan yang gersang. Kenaikan suhu bumi yang diperkirakan berkisar antara 1,4 hingga 5,8 derajat Celsius, yang bakal terjadi mulai dari tahun 1900 hingga tahun 2100 menurut prakiraan DWC (Dialogue on Water and Climate)-sebuah forum internasional menghimpun para pihak dari 13 badan dunia-menyebabkan es di kutub mencair. Ini akan mengakibatkan naiknya permukaan laut 9 hingga 88 sentimeter. Kenaikan itu akan menenggelamkan kawasan pantai dan pulau-pulau di berbagai belahan bumi. Hilangnya vegetasi juga telah meningkatkan pemantulan radiasi matahari kembali ke atmosfer hingga memperkecil terbentuknya awan.

Perubahan keseimbangan paparan sinar Matahari ini telah mempengaruhi iklim regional dan lebih lanjut mengurangi curah hujan di kawasan itu. Menurut data dari UNEP (Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa), daerah kering di muka Bumi ini telah mencapai 70 persen, seluas 20 persen di antaranya mengalami degradasi yang parah yang umumnya berada di Sahara Afrika.

Berkurangnya areal hutan dan tutupan vegetasi terutama di hulu telah mengurangi peresapan air ke dalam tanah, hingga ketersediaan air tawar baik di permukaan maupun di dalam tanah berkurang pada musim kemarau. Ketika hujan, air tawar yang jatuh ke bumi itu akan langsung mengalir kembali ke laut, tanpa sempat meresap ke dalam tanah. Selain itu ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi, permukaan tanah yang terbuka itu akan tererosi, maka terjadilah banjir di daerah hulu. Itulah gambaran betapa luasnya kerusakan lingkungan yang telah mengakibatkan berbagai dampak negatif yang sangat parah pada keseimbangan tata air dan kelestarian sumber daya air. Hal ini telah dirasakan oleh 1,4 juta orang yang hidup tanpa air minum yang bersih saat ini, dan mengakibatkan tujuh orang mati setiap tahunnya akibat penyakit yang muncul karena air yang tercemar oleh bakteri dan limbah.

Krisis air dunia saat ini menurut World Water Forum sudah dalam kondisi yang genting. Satu dari empat orang di dunia ini kekurangan air minum, dan satu dari tiga orang tidak mendapat sarana sanitasi yang layak. Menjelang tahun 2025 sekitar 2,7 milyar orang atau sekitar sepertiga populasi dunia akan menghadapi kekurangan air dalam tingkat yang parah. Ketersediaan air yang terbatas juga telah memicu konflik antarpenduduk yang dipisahkan oleh batas wilayah. Adanya batasan wilayah administrasi pada satu daerah aliran sungai dapat memicu konflik manakala distribusi air tidak merata dan berimbang antardaerah, antarprovinsi, hingga antarnegara.

Saat ini, lebih dari 260 sungai yang dimanfaatkan oleh dua atau lebih negara, sebagian besar tanpa aturan legal yang layak. Menurut Peter Gleick, dari Pacific Institute for Studies in Development, Environment, and Security, Amerika Serikat, konflik akibat sumber daya air lintas batas telah terjadi sekitar 5000 tahun lalu. Namun, pada masa kini catatan sejarah paling awal menunjukkan, pada tahun 1503 negara Pisa dan Florence di Eropa bertikai dan menjadikan sumber air sebagai alat militer. Ketika itu Leonardo da Vinci dan Marchievelli merencanakan membelokkan sungai Arno dari Pisa selama pertempuran itu. Kasus konflik air yang terakhir terjadi pada tahun 1999-2000 antara Namibia, Botswana, dan Zambia. Tiga negara di Afrika ini berselisih mengenai batas wilayah dan akses air di Pulau Sedudu/Kasikili yang berada di Sungai Zambezi/Chobe.

pencemaran-sungaiDalam catatan Gleick, ada 61 konflik antarnegara karena masalah air dalam kurun waktu hampir lima abad. Persengketaan sumber air itu terjadi karena berbagai masalah, antara lain akibat kontrol sumber air secara sepihak, menjadikan air sebagai alat atau target militer, politik, dan teror. Dan air menjadi sumber perselisihan dalam pembangunan ekonomi dan sosial. Pasokan air tawar yang kian menipis akibat salah urus, akan besar kemungkinan memicu lebih banyak konflik dalam skala lebih besar selama abad 21 ini.

Empat prioritas Dalam seminggu Forum Ketiga Air Dunia yang berakhir, Minggu (23/3), terungkap semua persoalan tersebut dalam 160 topik pembahasan. Menurut Presiden Badan Air Dunia (World Water Council) Dr Mahmoud Abu-Zied, dalam sambutan pembukaan forum tersebut di Kyoto (16/3), pertemuan tersebut merupakan tahapan penting karena akan menetapkan rencana aksi penanganan masalah air dunia.

Ia melihat ada empat hal yang harus menjadi prioritas aksi yaitu membangun etika baru air, mengupayakan pendanaan dalam pengelolaan air, meningkatkan pengelolaannya untuk keamanan dan perdamaian dunia, dan memprioritaskan perhatian pada negara-negara berkembang yang sebagian besar masyarakatnya menghadapi krisis air dan krisis ekonomi.

Sesungguhnya kemiskinan ekonomi dan air itu bagai dua sisi dalam satu keping mata uang. Kondisi krisis ini tidak hanya mengancam pembangunan berkelanjutan, tetapi juga untuk membangun kembali stabilitas keamanan dan perdamaian dunia. “Pada langkah pertama, kita harus mencapai sasaran untuk menyediakan akses air bagi setiap orang. Karena air merupakan mesin untuk pertumbuhan ekonomi dan bila digunakan secara bijak akan memberi kontribusi yang signifikan untuk mengatasi kemiskinan,” urainya.

Abu-Zeid adalah juga Menteri Sumber Daya Air dan Irigasi Mesir. Krisis air memang merupakan fenomena global, namun banyak bangsa dan negara dalam masa transisi memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah itu. Sebaliknya negara berkembang khususnya di Afrika, di sebagian besar di Asia, dan Amerika Selatan, menghadapi tantangan yang besar untuk memenuhi kebutuhan dasar itu. Mereka juga menghadapi milyaran masyarakat miskin yang kelaparan dan telantar. Karena itu, Abu-Zeid menekankan agar upaya yang dilakukan lebih mengutamakan masyarakat miskin di kawasan itu. Langkah yang harus dilaksanakan meliputi aplikasi konsep pengelolaan dan konservasi sumber daya air terintegrasi, memaksimalkan ketahanan pangan melalui pertanian irigasi di negara berkembang dan teknologi air yang murah, meningkatkan efektivitas bantuan untuk membangun kapasitas dan fasilitas pengelolaan air, dan mempromosikan perdamaian dan keamanan sungai lintas batas, serta kerja sama baru dalam pelayanan penyediaan air bersih.

Air merupakan katalis untuk perdamaian dan sumber keamanan dunia. Penekanannya harus diberikan terhadap mekanisme resolusi dan pencegahan konflik. Dalam hal ini harus dilakukan proteksi sumber daya air dan fasilitasnya selama konflik militer, dan penyediaan suplai air dalam keadaan darurat dan mengelola bencana alam. Ubah paradigma Upaya dalam tingkat global untuk mencegah persoalan air menjadi semakin buruk selama abad 21 ini, telah dirintis sejak Badan Air Dunia (World Water Council)-yang menjadi wadah pemikiran tentang kebijakan air internasional-menggelar forum pertemuan pertamanya di Marakesh, Maroko, enam tahun lalu. Dalam forum itu, WWC telah mengidentifikasi dengan jelas bahwa dunia kini tengah dalam kondisi krisis air.

Dalam forum kedua yang diselenggarakan tiga tahun kemudian di Hague, Belanda, WWC menyusun visi untuk mengatasi masalah tersebut. Di Kyoto, Jepang, pada forum ketiga tahun 2003, WWC menyusun rencana aksi dan menetapkan seberapa jauh dan cepat aksi itu dapat dilaksanakan. Dalam pertemuan ini akan dikeluarkan deklarasi menteri dunia. Forum ini secara langsung maupun tidak langsung telah mempengaruhi pandangan dunia pada ketersediaan air tawar dan mengangkat masalah itu pada tingkat yang lebih tinggi. Lahirnya forum ini telah memicu terjadinya revolusi biru yang mengubah paradigma dan pola tata air dan pemanfaatannya dalam skala dunia. Hal itu antara lain ditunjukkan pada komitmen negara G-7 setelah pertemuannya di Paris tahun 1998 yang akan memprioritaskan penanganan masalah air.

Komitmen ini kemudian direfleksikan pada dukungannya bagi NEPAD (New Partnership for Africa Development) pada tahun 2002. Sementara itu, masalah air pada tahun 2000 telah masuk dalam agenda di PBB sebagai bagian dari tujuan pembangunan dunia abad 21. Fokus ini kemudian lebih dipertajam pada Konferensi Air Internasional di Bonn tahun 2001 yang kemudian menghasilkan masukan bagi WSSD (World Summit for Sustainable Development) di Johannesburg, Afrika Selatan, tahun lalu. Komitmen negara-negara maju dan badan dunia ini hendaknya disambut serius terutama oleh pemerintah negara berkembang yang dituntut kesadarannya untuk melihat kenyataan bahwa masyarakatnya saat ini dalam kondisi krisis air dan memerlukan uluran tangan segera.

Sumber :  http://www.inawater.com

One thought on “Revolusi Biru Itu Telah Dimulai

  1. seharusnya pemerintah memerhatikan masalah ini,khusunya air bersih..
    penyaluran air bersih yg seharusnya merata disetiap daerah dapat mengurangi masalah kekurangan air saat ini.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s